MAKALAH
KONSEP KEHILANGAN, KEMATIAN, DAN BERDUKA
Dosen
pengampu: Sri Mumpuni,Ns., M.Kep
Nama Kelompok:
1.
Putri
Dewi R (1216003251)
2.
Siti
Khodijah (1216003281)
3.
Deby
Fitriyani (1216003301)
4.
Eni
Maftukhah (1216003151)
5.
M. Syahrul. K (1216003281)
6.
Siti
Romzanah (1216003181)
7.
Novia Lutfi A (1216003181)
PRODI
KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
PEKALONGAN
2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang
berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik
terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert, 1985, h.35). Kehilangan
merupakan pengalaman yang pernah dialami setiap individu dalam rentan
kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung
akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu
akan berespon terhadap situasi kehilangan, respon terakhir terhadap kehilangan
sangat dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya.
Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi
oleh manusia. Kematian (death) merupakan kondisi dimana secara klinis terjadi
hentinya pernafasan, nadi dan tekanan darah serta hilangnya respon terhadap
stimulus eksternal serta ditandai adanya aktivitas listrik otak terhenti, atau
juga dapat dikatakan terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap atau
terhentinya kerja otak secara menetap.
Berduka merupakan reaksi terhadap kehilangan yang
merupakan respon emosional yang normal. Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara
yang unik pada setiap individu berdasarkan pengalaman pribadi, ekspektasi
budaya dan keyakinan spiritual yang dianutnya. Intensitas dan durasi respon
berduka bergantung kepada persepsi kehilangan, usia, keyakinan agama, perubahan
kehilangan yang dibawa ke dalam kehidupannya, kemampuan personal untuk
mengatasi kehilangan dan sistem pendukung yang ada (Sanders, 1998 dalam Bobak,
2005).
Duka cita atau Berduka dilihat sebagai suatu keadaan
yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan
keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses
yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai
beberapa tujuan, yaitu: menolak(denial), marah (anger), tawar menawar
(bargaining), depresi (depression), dan menerima (acceptance). Pekerjaan duka
cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika
seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah
dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian kehilangan dan dampaknya?
2. Apa
pengertian berduka dan dampaknya?
3. Apa
pengertian kematian dan dampaknya?
C.
Tujuan
1. Agar
dapat memahami arti kehilangan dan dampaknya
2. Agar
dapat memahami arti berduka dan dampaknya
3. Agar
dapat memahami arti kematian dan dampaknya
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kehilangan
Kehilangan
dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu
yang terpupus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin
terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasaa atau traumik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total
dan bis kembali atau tidak dapat kembali.
Kehilangan merupakan suatu kondisi
dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang
dulunya pernah ada atau pernah dimiliki.Kehilangan merupakan suatu keadaan
individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumya ada menjadi tidak ada, Baik
sebagian atau seluruhnya.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu
yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumya ada, kemudian menjadi tidak ada,
baik terjadi sebagian atau keseluruhan (lambert dan lambert. 1985,h.35).
kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam
rentang kehidupanya. Sejak lahir lahir individu sudah mengalami kehilangan dan
cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berada.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung :
1.
Arti dari kehilangan
2.
Sosial budaya
3.
Kepercayaan/spiritual
4.
Peran seks
5.
Status social ekonomi
6.
Kondisi fisik dan psikologi individu
Kemampuan untuk meyelesaikan proses
berduka bergantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan
untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruhi apakah yang berduka alan
mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang
fiterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau
permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali
ekuilibrium fisik,pshikologis dan sosial.
a. Bentuk
bentuk kehilangan
1.
Kehilangan orang yang berarti
2.
Kehilangan kesejahteraan
3.
Kehilangan milik pribadi
b. Sifat
kehilangan
1.
Tiba-tiba (tidak dapat diramalkan)
kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat mengarah pada pemulihan
dukacita yang lambat. Kematian karena tidak kekerasaan, bunuh diri, pembunuhan
atau pelalaian diri akan sulut diterima.
2.
Berangsur-angsur(dapat diramalkan)
penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang
ditinggalkan mengalami keletihan emosional(rando:1984).
c. Tipe
kehilangan
1.
Actual
Loss
Kehilangan
yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individu
yang mengalami kehilanhan.
2.
Perceived Loss (psikologis)
Perasaan
individual, tetapi menyangkut hal-hal yang tidak dapat dira atau dinyatakan
secara jelas.
3.
Anticipatory Loss
Perasaan
kehilangan terjadi sebe;um terjadi. Individu
memperhatikan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan
yang akan berlangsung. Sering terjadi pada keluarga dengan klien (angota)
menderita sakit terminal.
d. Lima
kategori kehilangan
1.
Kehilangan objek eksternal.
Kehilangan
benda eksternal mencakup segala pemilikan yang telah menjadi usang berpindah
tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam.
2.
Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan
yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal mencangkup
lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau perpindahan secara
permanen.
3.
Kehilangan orang terdekat
Orang
terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandun, guru,
teman, tentangga, dan rekan kerja.
4.
Kehilangan aspek diri
Kehilangan
aspek dalam diri dapat mencangkup bagian tubuh, fungsi fisiologi, atau
psikologis.
5.
Kehilangan hidup
Kehilangan
dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana orang tersebut akan
meninggal.
e. Tahapan
proses kehilangan
1.
Stressor internal atau eksternal- gangguan dan klien- individu berfikir
positif- kompensasi positif terhadap kegiataan yang
dilakukan-perbaikan-mampu beradaptasi
dan merasa nyaman.
2.
Stessor internal atau eksternal-gangguan
dan kehilangan-indidu berfikir negatif- tidak berdaya-marah dan berlaku agresif-
diekspresikan ke dalam diri(tidak diungkapkan)-muncul gejala sakit fisik.
3.
Stressor internal atau
eksternal-gangguan dan kehilangan-individu berfikir negatif- tidak destriktif-
perasaan bersalah- ketidakerdayaan.
B.
Kematian
Kematian merupakan peristiwa alamiah
yang dihadapi oleh manusia. Pemahaman akan kematian mempengaruhisikap dan
tingkah laku seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep
kematian juga dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial
budaya.
Kematian adalah kematian otak yang
terjadi jika pusat otak tertinggi yaitu koerteks serebral mengalami kerusakan
permanen. Dalam kasus ini, ada aktivitas jantung, kehilangan fungsi otak
permanen, dimanifestasikan secara klinis dengan tidak ada respon terarah terhadap
stimulus eksternal, tidak ada refleks sefalik, apnea, dan elektrogram
isoelektrik minimal 30 menit tanpa hipotermia dan keracunan oleh depresan
sistem saraf pusat (Stedman, 2000)
Kematian adalah penghentian permanen
semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari kehidupan manusia. Lahir, menjelang
ajal dan kematian bersifat universal. Meskipun unik bagi setiap individu,
kejadian-kejadian tersebut bersifat normal dan merupakan proses hidup yang
diperlukan (Kozier, 2010)
Kebudayaan Jawa yang menjadi latar tumbuh
kembang anak menjadi penting untuk diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pemahaman anak usia sekolah dan pra remaja tentang kematian dengan
mengacu pada tujuh subkonsep kematian, yakni irreversibility, cessation,
inevitability, universability, causality, unpredictability, dan personal
mortality (Slaughter, 2003).
C.
Berduka
Berduka adalah respon
emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya
perasaan sedih, gelisah,cemas sesak nafas, susah tidur, dan dll.
Berduka disfungsional adalah suatu yang
merupakan pengalaman individu yang responya dibesar besarkan saat individu
kehilangan secara aktual maupun potensial.
Berduka diantisipasi adalah suatu yang
merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun
yang dirasakan seseorang.
1.
Teori engels
Menurut
engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan
pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
Easel
(ahock dan tidak percaya)
ü Fase
I (shock dan tidak percaya)
Seseorang
menolak kenyataan atau kehilangan dan
menarik diri, duduk malas atau pergi tanpa tujuan.
ü Fase
II (berkembang kesadaran)
Seseorang
mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa.
Kemarahan, perasaan bersalah, frutasi, depresi, dan kosongan jiwa tiba-tiba
terjadi.
ü Fase
III (restitusi)
Berusaha
mencoba untuk sepakat dengan perasaan yang hampa karena kehilangan masih tetap
tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk
mengalihkan kehilangan seseorang.
ü Fase
IV
Menekan
seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa
bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya dimasa lalu terhadap
almrm.
ü Fase
V
Kehilangan
yang tak dapat dihindari harus diketahui sehingga pada fase ini diharapkan
seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.
2.
Teori Rando
Rando
(1993) mendefinisikan respon berduka menjadi tiga kategori:
a.
Penghindaran
Pada
tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya
b.
Konfrontasi
Pada
tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara
berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan
dirasakan paling akut.
c.
Akomodasi
Pada
tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki
kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar
untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kehilangan
merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak
ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada dan pernah dimiliki. Kehilangan
merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada
menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Berduka
merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. Berduka diantisipasi
adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon
kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan,
objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini
masih dalam batas normal.
Berduka
disfungsional adalah suatustatus yang merupakan pengalaman individu yang
responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun
potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini
kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
Kehilangan
dibagi dalam 2 tipe yaitu, aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 kategori
kehilangan, yaitu kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan
yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan yang ada pada diri
sendiri atau aspek diri, kehilangan kehidupan atau meninggal.
DAFTAR PUSTAKA
Budi,
Anna keliiat. 2009. Model praktikum keperawatan profesional jiwa.
Jakarta: EGC
Iyus ,Yosep. 2007. Keperawatan jiwa. Bandung. Refika Aditan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar