Pengikut

Kamis, 15 Maret 2018

MAKALAH KONSEP KEHILANGAN, KEMATIAN, DAN BERDUKA



                  MAKALAH
 KONSEP KEHILANGAN, KEMATIAN, DAN BERDUKA
Dosen pengampu: Sri Mumpuni,Ns., M.Kep

 
 
Nama Kelompok:
1.     Putri Dewi R              (1216003251)
2.     Siti Khodijah             (1216003281)
3.     Deby Fitriyani           (1216003301)
4.     Eni Maftukhah          (1216003151)   
5.      M. Syahrul. K           (1216003281)
6.     Siti Romzanah           (1216003181)
7.      Novia Lutfi A           (1216003181)


PRODI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2017/2018






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert, 1985, h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami setiap individu dalam rentan kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan berespon terhadap situasi kehilangan, respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya.
Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Kematian (death) merupakan kondisi dimana secara klinis terjadi hentinya pernafasan, nadi dan tekanan darah serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal serta ditandai adanya aktivitas listrik otak terhenti, atau juga dapat dikatakan terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara menetap.
Berduka merupakan reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respon emosional yang normal. Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada setiap individu berdasarkan pengalaman pribadi, ekspektasi budaya dan keyakinan spiritual yang dianutnya. Intensitas dan durasi respon berduka bergantung kepada persepsi kehilangan, usia, keyakinan agama, perubahan kehilangan yang dibawa ke dalam kehidupannya, kemampuan personal untuk mengatasi kehilangan dan sistem pendukung yang ada (Sanders, 1998 dalam Bobak, 2005).


Duka cita atau Berduka dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu: menolak(denial), marah (anger), tawar menawar (bargaining), depresi (depression), dan menerima (acceptance). Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kehilangan dan dampaknya?
2.      Apa pengertian berduka dan dampaknya?
3.      Apa pengertian kematian dan dampaknya?

C.    Tujuan
1.      Agar dapat memahami arti kehilangan dan dampaknya
2.      Agar dapat memahami arti berduka dan dampaknya
3.      Agar dapat memahami arti kematian dan dampaknya



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kehilangan
Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu yang terpupus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti  sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasaa  atau traumik, diantisispasi atau  tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bis kembali atau tidak dapat kembali.
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki.Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumya ada menjadi tidak ada, Baik sebagian atau seluruhnya.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (lambert dan lambert. 1985,h.35). kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupanya. Sejak lahir lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berada.
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung :
1.      Arti dari kehilangan
2.      Sosial budaya
3.      Kepercayaan/spiritual
4.      Peran seks
5.      Status social ekonomi
6.      Kondisi fisik dan psikologi individu
Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruhi apakah yang berduka alan mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang fiterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik,pshikologis dan sosial.
a.       Bentuk bentuk kehilangan
1.      Kehilangan orang yang berarti
2.      Kehilangan kesejahteraan
3.      Kehilangan milik pribadi
b.      Sifat kehilangan
1.      Tiba-tiba (tidak dapat diramalkan) kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat mengarah pada pemulihan dukacita yang lambat. Kematian karena tidak kekerasaan, bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian diri akan sulut diterima.
2.      Berangsur-angsur(dapat diramalkan) penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang ditinggalkan mengalami keletihan emosional(rando:1984).
c.       Tipe kehilangan
1.      Actual  Loss
Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individu yang mengalami kehilanhan.
2.      Perceived Loss (psikologis)
Perasaan individual, tetapi menyangkut hal-hal yang tidak dapat dira atau dinyatakan secara jelas.
3.      Anticipatory Loss
Perasaan kehilangan terjadi sebe;um terjadi. Individu  memperhatikan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung. Sering terjadi pada keluarga dengan klien (angota) menderita sakit terminal.
d.      Lima kategori kehilangan
1.      Kehilangan objek eksternal.
Kehilangan benda eksternal mencakup segala pemilikan yang telah menjadi usang berpindah tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam.
2.      Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal mencangkup lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau perpindahan secara permanen.
3.      Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandun, guru, teman, tentangga, dan rekan kerja.
4.      Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencangkup bagian tubuh, fungsi fisiologi, atau psikologis.
5.      Kehilangan hidup
Kehilangan dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana orang tersebut akan meninggal.
e.       Tahapan proses kehilangan
1.      Stressor internal atau eksternal-  gangguan dan klien- individu berfikir positif- kompensasi positif terhadap kegiataan yang dilakukan-perbaikan-mampu  beradaptasi dan merasa nyaman.
2.      Stessor internal atau eksternal-gangguan dan kehilangan-indidu berfikir negatif- tidak berdaya-marah dan berlaku agresif- diekspresikan ke dalam diri(tidak diungkapkan)-muncul gejala sakit fisik.
3.      Stressor internal atau eksternal-gangguan dan kehilangan-individu berfikir negatif- tidak destriktif- perasaan bersalah- ketidakerdayaan.


B.     Kematian
Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Pemahaman akan kematian mempengaruhisikap dan tingkah laku seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep kematian juga dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial budaya.
Kematian adalah kematian otak yang terjadi jika pusat otak tertinggi yaitu koerteks serebral mengalami kerusakan permanen. Dalam kasus ini, ada aktivitas jantung, kehilangan fungsi otak permanen, dimanifestasikan secara klinis dengan tidak ada respon terarah terhadap stimulus eksternal, tidak ada refleks sefalik, apnea, dan elektrogram isoelektrik minimal 30 menit tanpa hipotermia dan keracunan oleh depresan sistem saraf pusat (Stedman, 2000)
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari kehidupan manusia. Lahir, menjelang ajal dan kematian bersifat universal. Meskipun unik bagi setiap individu, kejadian-kejadian tersebut bersifat normal dan merupakan proses hidup yang diperlukan (Kozier, 2010)
Kebudayaan Jawa yang menjadi latar tumbuh kembang anak menjadi penting untuk diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman anak usia sekolah dan pra remaja tentang kematian dengan mengacu pada tujuh subkonsep kematian, yakni irreversibility, cessation, inevitability, universability, causality, unpredictability, dan personal mortality (Slaughter, 2003).





C.    Berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah,cemas sesak nafas, susah tidur, dan dll.
Berduka disfungsional adalah suatu yang merupakan pengalaman individu yang responya dibesar besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial.
Berduka diantisipasi adalah suatu yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang.
1.      Teori engels
Menurut engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
Easel (ahock dan tidak percaya)
ü  Fase I  (shock dan tidak percaya)
Seseorang menolak  kenyataan atau kehilangan dan menarik diri, duduk malas atau pergi tanpa tujuan.
ü  Fase II (berkembang kesadaran)
Seseorang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frutasi, depresi, dan kosongan jiwa tiba-tiba terjadi.

ü  Fase III (restitusi)



Berusaha mencoba untuk sepakat dengan perasaan yang hampa karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.
ü  Fase IV
Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya dimasa lalu terhadap almrm.
ü  Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus diketahui sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.

2.      Teori Rando
Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi tiga kategori:
a.       Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya
b.      Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.
c.       Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada dan pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatustatus yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu, aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 kategori kehilangan, yaitu kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan yang ada pada diri sendiri atau aspek diri, kehilangan kehidupan atau meninggal.


DAFTAR PUSTAKA

Budi, Anna keliiat. 2009.  Model praktikum keperawatan profesional jiwa. Jakarta: EGC
Iyus ,Yosep. 2007. Keperawatan jiwa. Bandung. Refika Aditan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDIDIKAN DAN PROMOSI KESEHATAN DALAM KEPERAWATAN

PENDIDIKAN DAN PROMOSI KESEHATAN DALAM KEPERAWATAN Di susun oleh : 1.       PUTRI DEWI RIZKIYAH (1216003251) PROGRA...